Meluangkan Waktu Bersama Anak – Online Konselor

Sebagai orangtua sudah pasti ingin anaknya tumbuh secara optimal. Orangtua ingin anaknya menjadi pribadi yang berperilaku baik, cerdas, sehat dan kuat, jago bermain musik, juara lomba melukis, dan beragam keahlian lainnya. Banyak harapan yang diinginkan orangtua bagi anaknya.

 

Namun di sisi lain, apakah anak bahagia akan segala tuntutan dan harapan dari orangtua tersebut ?

Dunia anak adalah dunia bermain. Melalui bermain, anak belajar mengenal lingkungannya. Lewat bermain pula, anak mengembangkan daya imajinasi dan kemampuannya memecahkan masalah. Kebahagiaan anak sebenarnya tidak harus selalu lewat barang yang mahal? Anak ingin orangtua meluangkan waktu bermain bersamanya. Kebersamaan dengan orangtua tidak dapat digantikan dengan barang yang mahal sekalipun.

 

Namun seringkali karena alasan terlalu sibuk, orangtua tidak mempunyai waktu untuk bermain bersama anak. Orangtua berusaha menggantikan kehadirannya dengan barang-barang yang diinginkan anak. Bahkan ada pula orangtua yang bingung bagaimana bermain bersama anak. Hingga kelak ketika anak sudah beranjak teman dalam pergaulan anak. Bagi remaja, teman adalah segalanya. Di saat inilah, orangtua semakin sulit berinteraksi dengan anak karena hubungan orangtua-anak tidak terjalin sebelumnya.

 

Oleh karena itu, marilah sebelum terlambat. Jalin hubungan yang dekat dengan anak. Kenali anak dengan segala kepribadiannya yang unik. Terimalah ia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Luangkanlah waktu bermain bersamanya, minimal 30 menit setiap harinya. Nikmatilah setiap momen bersama anak. Tidak terasa anak akan tumbuh besar dan momen itu tidak bisa terulang lagi. Anak menjadi remaja dan kemudian dewasa.

 

Oleh sebab itu, mulailah sekarang juga dengan permainan sederhana yang bisa diciptakan sendiri, seperti bermain tebak-tebakan, tertawa bersama, ataupun bertanya mengenai keadaan di sekitar anak untuk memancing rasa ingin tahu anak sehingga anak mulai memperhatikan, melihat, mendengar serta peka melihat sekelilingnya.

 

Contohnya “Coba cari benda yang berbentuk lingkaran di kamar ini!”  Anak diajarkan mengenal konsep bentuk lingkaran dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Orangtua dapat juga memancing pendapat anak dengan bertanya “Coba lihat itu!” (menunjuk ke kupu-kupu yang sedang hinggap di bunga); “Apa itu ya?”; “Sedang apa dia?”; “Untuk apa ya dia hinggap di bunga ya?” Terimalah segala pendapat anak. Biarkan ia berani berekspresi dan berpendapat. Berikanlah informasi tambahan untuk memperluas wawasan anak, seperti “Tahukah kamu kalau kupu-kupu yang cantik itu sebenarnya dari ulat kecil. Ulat kecil makan daun yang sangat banyak. Lalu ia menjadi kepompong dan beberapa waktu kemudian jadilah kupu-kupu.” 

 

Dari kisah kupu-kupu ini, kita dapat memberikan pesan bahwa segala sesuatu ada prosesnya. Tidak bisa langsung menjadi indah.  Lewat interaksi orangtua dan anak, rasa percaya dan aman bersama orangtua semakin tumbuh. Anak mulai berani untuk bertanya dan bercerita pada orangtua. Anak pun menjadi dekat dengan orangtua. Saat ia remaja dan dewasa kelak, ia tidak akan canggung bercerita pada Anda karena ia tahu siapa yang dapat ia percaya. Orangtua yang selalu menyayangi dan menerimanya apa adanya.

 

sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *